Tameh Budaya

Benteng Indrapatra

Benteng Indrapatra berada di Desa Ladong Kecamatan Masjid Raya Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh. Lokasi benteng terletak di pinggir laut dan tambak ikan masyarakat sehingga sering tergenang air pasang laut Upaya pelestarian yang telah dilaksanakan pada Benteng Indrapatra adalah dengan penetapan sebagai cagar budaya dan pemeliharaan rutin setiap tahun. Situs Benteng Indrapatra telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Nomor Penetapan: 014/M/1999 pada tanggal 12 Januari 1999. Pada tahun 1981, 1982, 1991, 1992, dan 1993 diadakan pemugaran pada benteng I dan II. Pada tahun 1996 dan 1997 diadakan penggalian atau eskavasi penyelamatan pada benteng III dan halaman benteng. Benteng I dan II ini dipugar secara bertahap melalui proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Provinsi Daerah lstimewa Aceh pada tahun 1991 dengan status kepemilikan benteng adalah milik negara.

Indrapatra — lambang kekuatan, warisan yang tak lekang zaman.

"Benteng Indrapatra merepresentasikan kekuatan pertahanan kuno Aceh yang tumbuh melalui berbagai periodisasi budaya. Struktur monumental, jejak tsunami, dan fungsi berlapisnya menegaskan nilai historisnya sebagai warisan tak lekang zaman yang penting bagi kajian arkeologi dan identitas Aceh."

Informasi secara terperinci tentang benteng Indrapatra belum banyak tersedia, baik mengenai struktur benteng maupun awal keberadaannya. Ada sumber yang menyebutkan bahwa nama Indrapuri (Sanskrit: bermakna kuta ratu) di pedalaman lembah Krueng (sungai) Aceh, Indrapatra – (Sanskrit: ‘Raja Panglima’) di sisi pesisir timur, Indrapurwa (Sanskrit: ‘Raja Tua’) di sisi pesisir barat, serta Indrajaya (sanskrit: ‘Raja Besar’) di sisi pesisir selatan (Daya dan Lamno, Kabupaten Aceh Jaya). Jauh sebelum pembentukan kesultanan Aceh, di Aceh lebih dikenal oleh para pelaut asing (dari Timur Tengah, Asia Selatan-India, Cina, dan Eropa) sebagai negeri atau pelabuhan Lamuri.

W.Goldie, Kapten Infantri Belanda yang pernah bertugas di Aceh, menceritakan tentang benteng Indrapatra sebagai berikut: ketika kami menjumpai tugu ini, ia tidak saja dikelilingi hutan, bahkan bagian dalamnya ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi, setelah pohon-pohon ditebang sejauh yang diperlukan, ternyata, tidak dijumpai pintu masuknya. Dengan berpegang pada akar-akar kayu kami memanjat ke bagian dalam; kini kami berada di sebuah ruang terletak 2 meter di bawah pinggiran atas dan sekarang ditutupi selapis humus yang seluruhnya ditutupi pasir laut seperti terlihat ketika digali. Pada sisi dalam tembok-tembok itu dijumpai sebuah batu yang kini hampir pada semua sisinya sudah longsor, tetapi secara normal terletak tinggi sekali sehingga jika berdiri di atasnya, kita dapat melihat pemandangan di luar tembok.

Dari catatan di atas, keberadaan pasir laut berada di bawah lapisan tanah humus, bisa jadi mengindikasikan bahwa kejadian tsunami pernah berdampak pada situs ini. Hasil kajian geologi yang dilakukan di pantai Aceh ada permukiman di Aceh pada masa lampau pernah dihamtam oleh peristiwa tsunami besar.

Hasil kajian mitigasi bencana pada benteng Indrapatra, menurut Nazli Ismail, beberapa struktur di sekitar benteng telah terkubur setelah tsunami Samudra Hindia tahun 2004 atau endapan paleotsunami sebelumnya. Bencana alam gempa bumi dan tsunami, banjir rob, dan air pasang mengakibatkan benteng ini rusak, rapuh dan dimakan usia.

Benteng Indrapatra telah mengalami beberapa periodisasi dan alih fungsi. Menurut beberapa sumber bahwa benteng Indrapatra merupakan salah satu peninggalan kerajaan Hindu di Aceh yang dibangun oleh Putra Raja Harsja (keluarga raja Hindu di India yang melarikan diri akibat serangan bangsa Huna tahun 604 M). Setelah masuk pengaruh Islam di Aceh, benteng ini difungsikan sebagai tempat ibadah (masjid). Selain itu, benteng ini juga pernah digunakan sebagai rumah para tamu yang datang ke Aceh sehingga dikenal dengan nama Rumoh Siribee (rumah seribu). Hal itu disebabkan benteng tersebut dapat digunakan untuk menampung seribu orang tamu negara. Pada masa sultan Iskandar Muda (1607-1636), benteng ini digunakan sebagai benteng pertahanan.

Kompleks benteng Indrapatra terdiri atas empat struktur benteng (Benteng I, II, III, dan IV). Dua benteng masih utuh karena sudah dipugar, sedangkan dua struktur benteng belum dipugar. Benteng I merupakan benteng terbesar dibangun menghadap ke barat. Dalam benteng ini terdapat dua (2) sumur berbentuk kubah dengan empat lengkung atau pintu masuk dan struktur empat persegi serta selasar yang mengelilingi dinding benteng. Benteng II terletak disebelah utara benteng I dengan bentuk empat persegi. Di dalam benteng II terdapat bangunan pelindung tiga unit (3) yang diduga tempat penyimpanan peluru, meriam dan senjata. Benteng III terletak di sebelah barat daya benteng I yang memiliki ukuran lebih kecil, di sekeliling dinding terdapat bekas lubang pengintaian yang berjumlah sebelas (11) dan di dalamnya terdapat ruangan kecil. Benteng IV berada di sebelah barat benteng I, terdapat bekas benteng pengintai yang diduga sebagai kubu pertahanan. Selain itu, terdapat saluran sumur tanpa kubah sebanyak tiga unit dan kanal air yang mengalir dari arah gunung ke arah laut. Benteng Indrapatra dibuat dari bahan bongkahan batu (batuan beku dan koral) yang direkatkan dengan spesi material kapur, kulit kerang dan arang pada bagian struktur. Dari teknologi pembuatan benteng, dapat diamati bahwa pembuatan spesi atau mortar bercampur dengan arang. Apakah dilakukan pembakaran atau sengaja ditambahkan arang perlu penelitian lebih lanjut.

Situs & Destinasi Wisata Terdekat

Kompleks pemakaman prajurit Belanda peninggalan kolonial yang merekam sejarah peperangan Aceh, menjadi sumber penting kajian sejarah dan arkeologi kolonial.

Gerbang istana Kesultanan Aceh bergaya arsitektur Islam-Melayu, berfungsi sebagai jalur penghubung Sultan menuju Taman Sari Gunongan dalam aktivitas kerajaan.

Bangunan memorial arsitektur modern berfungsi edukatif, dirancang untuk mengenang tragedi tsunami 2004 dan meningkatkan kesadaran mitigasi bencana masyarakat.

Ruang terbuka bersejarah di pusat Banda Aceh yang sejak masa kolonial berfungsi sebagai lokasi upacara, olahraga, dan kegiatan kebudayaan masyarakat.

Lembaga pelestari warisan budaya Aceh yang menampilkan koleksi etnografi, arkeologi, dan sejarah, mencerminkan identitas serta peradaban masyarakat Aceh.

Jejak Sejarah Lainnya

Gunong biram v2
Benteng Gunong Biram
Keberadaan benteng ini sering dikaitkan dengan Sultan Iskandar Muda, yaitu dengan adanya penyebutan Benteng...