Kandang Meuh II merupakan makam keluarga sultan Aceh. Tokoh penting yang dimakamkan di sini belum diketahui hubungannya, karena batu nisan tidak mengandung sumber teks epitap, kecuali makam nomor 4, yaitu makam Zain al’Abidin, yang mengandung epitap dengan huruf yang sangat rusak pada bagian jirat atau batu badan. Beberapa tokoh berdasarkan papan informasi diketahui ada empat orang tokoh dan salah seorang diantaranya, dan menjadi tokoh utama, yaitu sultan dari keturunan Raja Bugis Melayu.
"Kandang Meuh, pusara megah para raja Aceh, berdiri tenang di tengah hiruk Banda Aceh. Di sini sejarah bernafas dalam diam, dan setiap ukiran batu nisan memantulkan cahaya kebesaran Islam dan peradaban Aceh Darussalam."
TOKOH-TOKOH YANG DIMAKAMKAN DI
KANDANG MEUH II
Makam di kelompok makam ini, kususnya untuk tokoh utama, terdiri dari dua elemen makam yaitu batu nisan untuk penanda bagian kepala dan jirat yang dibuat dari
susunan batu bata dan semen.
Bentuk jirat sangat menarik dan khas, karena dibangun cukup besar dan terkesan terlalu berlebihan menyerupakan altar, ada 2 makam dengan jirat serupa ini. Selain itu, ada 10 makam dengan jirat dari batu yang dipahat dan tersusun dari dua balok batu berbentuk serupa peti batu.
salah satu dari tiga kelompok makam keluarga Sultan Aceh dari abad ke-18 M. hingga abad ke-19 M. berada di sisi timur Krueng Daroy (Sungai ‘Dar al Asyqi’; Bustan as Salatin Nur ad Din ar Raniry). Di sini dimakamkan 10 atau lebih dan diantaranya tiga orang Sultan Aceh dan pembesar dalam sultan serta keluarganya. Makam untuk
tokoh utama terdiri dari dua elemen makam yaitu batu nisan untuk penanda bagian kepala dan jirat yang dibuat dari susunan batu bata dan semen. Bentuk jirat sangat menarik dan khas, karena dibangun cukup besar dan terkesan terlalu berlebihan menyerupakan altar, ada 6 makam dengan jirat serupa ini. Selain itu juga ada sebuah makam dengan jirat dari batu yang dipahat dan tersusun dari dua balok batu berbentuk serupa peti batu.
TOKOH-TOKOH YANG DIMAKAMKAN DI
KANDANG MEUH I
Komplek Makam Poteumeureuhom bukan sekadar peninggalan masa silam, melainkan cermin keagungan jiwa dan kebijaksanaan Aceh. Di antara nisan-nisan tua yang berlumut, tersimpan kisah tentang ilmu, kepemimpinan, dan pengabdian seorang tokoh yang dihormati lintas zaman. Keheningan situs ini berbicara lembut kepada setiap pengunjung—mengajarkan bahwa kebesaran sejati terletak pada ilmu, iman, dan warisan nilai yang dijaga dengan tulus.
Sebagai bagian dari Cagar Budaya Nasional, situs ini mengingatkan kita akan tanggung jawab bersama untuk melestarikan peninggalan sejarah bukan hanya sebagai benda, tetapi sebagai roh kebudayaan yang menuntun generasi Aceh menuju masa depan yang berakar pada kearifan masa lalu.
Dalam heningnya, Poteumeureuhom tetap hadir—sebagai simbol kebijaksanaan, cahaya penuntun, dan saksi abadi perjalanan panjang peradaban Aceh Darussalam.
Kompleks pemakaman prajurit Belanda peninggalan kolonial yang merekam sejarah peperangan Aceh, menjadi sumber penting kajian sejarah dan arkeologi kolonial.
Gerbang istana Kesultanan Aceh bergaya arsitektur Islam-Melayu, berfungsi sebagai jalur penghubung Sultan menuju Taman Sari Gunongan dalam aktivitas kerajaan.
Bangunan memorial arsitektur modern berfungsi edukatif, dirancang untuk mengenang tragedi tsunami 2004 dan meningkatkan kesadaran mitigasi bencana masyarakat.
Ruang terbuka bersejarah di pusat Banda Aceh yang sejak masa kolonial berfungsi sebagai lokasi upacara, olahraga, dan kegiatan kebudayaan masyarakat.
Lembaga pelestari warisan budaya Aceh yang menampilkan koleksi etnografi, arkeologi, dan sejarah, mencerminkan identitas serta peradaban masyarakat Aceh.