Situs Pemakaman Kerkhof Peucut, atau yang juga dikenal dengan nama Kerkhof Peutjoet, terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda, Gampong Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, Indonesia. Secara administratif, kawasan ini termasuk dalam wilayah pemerintahan Kota Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh, yang merupakan pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi, dan kebudayaan di ujung barat Pulau Sumatra. Situs ini berada pada koordinat geografis 5°33’57.0″ Lintang Utara dan 95°19’50.0″ Bujur Timur, dengan ketinggian sekitar 8 meter di atas permukaan laut.
Kerkhof Peucut menempati lahan seluas kurang lebih 3,5 hektar dan secara tata ruang termasuk dalam zona kawasan budaya dan sejarah di pusat Kota Banda Aceh, berdekatan dengan beberapa situs penting lainnya seperti Taman Sari Gunongan, Pinto Khop, Museum Tsunami Aceh, dan Masjid Raya Baiturrahman. Penetapan kawasan ini sebagai situs cagar budaya dilakukan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat, dengan dukungan teknis dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh dan berbagai lembaga konservasi sejarah, termasuk Yayasan Dana Peutjut yang berbasis di Belanda.
"Kerkhof Peucut terletak di pusat Kota Banda Aceh, tepatnya di kawasan Baiturrahman, hanya beberapa menit dari Museum Tsunami Aceh dan Masjid Raya Baiturrahman yang megah. Lokasinya yang strategis membuat situs ini mudah dijangkau oleh wisatawan maupun peneliti sejarah. Di balik pagar besinya yang kokoh, berdiri rapi ribuan nisan putih yang berjajar senyap—milik para serdadu Belanda dan pasukan KNIL yang gugur dalam Perang Aceh (1873–1904), salah satu perang paling sengit dan panjang dalam sejarah kolonial Belanda di Nusantara."
Situs Pemakaman Kerkhof Peucut atau Kerkhof Peutjoet merupakan kompleks pemakaman peninggalan masa kolonial Belanda yang dibangun pada akhir abad ke-19 di Kota Banda Aceh. Nama “Peucut” diambil dari Teuku Nyak Puteh, salah satu tokoh Aceh yang gugur dalam Perang Aceh, sedangkan kata “Kerkhof” dalam bahasa Belanda berarti pemakaman.
Kompleks ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari 2.200 serdadu Belanda dan sekutunya yang tewas dalam Perang Aceh (1873–1904), salah satu perang terpanjang dan paling sengit dalam sejarah kolonial di Nusantara. Di dalamnya juga terdapat makam sejumlah tokoh penting seperti Jenderal Kohler, panglima pertama Belanda yang gugur dalam pertempuran di Masjid Raya Baiturrahman pada 1873.
Selain menjadi bukti nyata sejarah kolonial, Kerkhof Peucut juga mencerminkan pertemuan dua peradaban besar: Aceh dan Eropa, melalui arsitektur nisan bergaya Eropa yang berdampingan dengan suasana dan tradisi lokal. Situs ini menjadi simbol pengorbanan, perlawanan, dan rekonsiliasi sejarah antara dua bangsa yang pernah berperang.
Sebagai cagar budaya, Kerkhof Peucut memiliki nilai historis, edukatif, dan kultural yang tinggi. Nilai historisnya terletak pada dokumentasi perang kolonial dan strategi militer masa lalu; nilai edukatifnya muncul dari pelajaran tentang perdamaian dan keberanian; sementara nilai kulturalnya tampak dalam warisan arsitektur serta interaksi sosial lintas budaya yang terekam di kompleks ini.
Kini, Kerkhof Peucut dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh. Situs ini tidak hanya menjadi tempat ziarah sejarah, tetapi juga ruang refleksi tentang makna perjuangan, kemanusiaan, dan pelestarian warisan masa lalu bagi generasi mendatang.
Situs Pemakaman Kerkhof Peucut tidak hanya memiliki nilai sejarah yang kuat, tetapi juga menyimpan nilai arsitektur kolonial yang khas dan merepresentasikan gaya perancangan Eropa abad ke-19 yang diadaptasi dengan kondisi tropis dan budaya lokal Aceh. Kompleks ini memperlihatkan bagaimana arsitektur kolonial Belanda menata ruang memorial dengan unsur simbolik, militer, dan religius dalam satu kawasan.
Secara tata ruang, Kerkhof Peucut dibangun dengan pola geometris teratur menyerupai grid — ciri khas tata lahan pemakaman Eropa pada masa itu. Jalan setapak di antara deretan makam dibentuk sejajar dan simetris, mengarah ke pusat area utama tempat makam tokoh penting seperti Jenderal Kohler berada. Pola ini melambangkan kedisiplinan dan ketertiban militer, sekaligus memberikan kesan monumental dan terorganisir.
Dari segi elemen arsitektur, nisan dan batu makam di Kerkhof Peucut menampilkan beragam gaya tipologi Eropa, seperti bentuk salib, obelisk, dan prasasti dengan ukiran huruf Latin klasik. Sebagian besar nisan dibuat dari batu granit, marmer, atau semen cetak dengan ornamen bergaya neoklasik, gotik, dan barok sederhana. Di antara ratusan makam tersebut, beberapa memiliki relief pahatan simbol militer, lambang pasukan, atau penanda pangkat dan asal kesatuan serdadu.
Menariknya, di beberapa bagian juga tampak pengaruh arsitektur lokal Aceh — misalnya penggunaan pagar bata merah, ornamen tanaman tropis sebagai pembatas alami, serta tata lanskap yang mengikuti kontur tanah datar khas kawasan pesisir Banda Aceh. Adaptasi ini menciptakan harmoni antara gaya arsitektur Eropa dan nuansa tropis Nusantara.
Gerbang utama Kerkhof Peucut menampilkan arsitektur kolonial sederhana bergaya neoklasik, dengan lengkung simetris dan dinding bata berlapis plester putih. Gerbang ini tidak hanya berfungsi sebagai akses utama, tetapi juga sebagai elemen simbolik yang memisahkan dunia luar dengan kawasan memorial yang sakral. Di bagian dalam, terdapat monumen peringatan utama dan beberapa tugu memorial kecil yang menandai kelompok pemakaman perwira tinggi.
Nilai arsitektur Kerkhof Peucut tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada makna simbolik di balik rancangan ruangnya. Pola simetris, material batu yang kokoh, dan simbol-simbol pada nisan menggambarkan gagasan tentang keabadian, penghormatan, serta keteraturan militer yang menjadi ciri kuat budaya kolonial Belanda. Dalam konteks pelestarian, gaya arsitektur ini menjadi dokumen visual penting yang menunjukkan perkembangan teknik bangunan, seni ukir batu, dan konsep peringatan kematian pada masa kolonial di Aceh.
Gerbang ini dikenal pula dengan sebutan Pinto Khop, merupakan pintu penghubung antara istana dengan Taman Ghairah. Pintu ini berukuran panjang 2 m, lebar 2 m, dan tinggi 3 m. Pinto Khop terletak pada sebuah lembah sungai Dar al-Ishq. Dugaan sementara, tempat ini merupakan tebing yang disebutkan dalam Bustanussalatin dan bersebelahan dengan sungai tersebut. Dengan adanya perombakan tata kota Banda Aceh dewasa ini, kini pintu tersebut tidak lagi berada dalam satu kompleks dengan Taman Sari Gunongan. Bangunan Pintu Khop dibuat dari bahan kapur dengan rongga sebagai pintu dan langit-langit berbentuk busur untuk dapat dilalui dari arah timur dan barat. Bagian atas pintu masuk berhiaskan dua tangkai daun yang disilang sehingga menimbulkan fantasi (efek) figur wajah dengan mata dan hidung serta rongga pintu sebagai mulut. Atap bangunan yang bertingkat tiga dihiasi dengan berbagai hiasan dalam bingkai-bingkai, antara lain biram berkelopak (mutiara di dalam kelopak bunga seperti yang juga ditemukan pada bangunan Gunongan). Sementara pada bagian puncaknya dihiasi dengan sangga pelinggam (mahkota berupa topi dengan bagian puncak mėruncing). Bagian atap merupakan pelana dengan modifikasi di empat sisi dan berlapis tiga. Pada sisi utara dan selatan dewala ini berkesinambungan dengan tembok tebal (tebal 50 m dan tinggi 130 m) yang diduga merupakan pembatas antara lingkungan Dalam (istana) dengan taman, tetapi tembok tersebut tidak ditemukan lagi.
Kompleks pemakaman prajurit Belanda peninggalan kolonial yang merekam sejarah peperangan Aceh, menjadi sumber penting kajian sejarah dan arkeologi kolonial.
Gerbang istana Kesultanan Aceh bergaya arsitektur Islam-Melayu, berfungsi sebagai jalur penghubung Sultan menuju Taman Sari Gunongan dalam aktivitas kerajaan.
Bangunan memorial arsitektur modern berfungsi edukatif, dirancang untuk mengenang tragedi tsunami 2004 dan meningkatkan kesadaran mitigasi bencana masyarakat.
Ruang terbuka bersejarah di pusat Banda Aceh yang sejak masa kolonial berfungsi sebagai lokasi upacara, olahraga, dan kegiatan kebudayaan masyarakat.
Lembaga pelestari warisan budaya Aceh yang menampilkan koleksi etnografi, arkeologi, dan sejarah, mencerminkan identitas serta peradaban masyarakat Aceh.