Gunongan merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Aceh. Lokasinya berada di Jalan Teuku Umar No.1, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Bangunan Taman ini berbatasan dengan Jalan Teuku Umar di sebelah utara dan barat, sedangkan di sebelah selatan dan timur berbatasan dengan Krueng Daroy. Secara geografis Gunongan berada pada koordinat 5.545964° LU dan 95.316287° BT dengan ketinggian 3 Mdpl. Struktur arkeologis Taman Sari Gunongan sudah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan Surat Keputusan 014/M/1999-pada 12 Januari 1999.
"Gunongan dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) untuk memenuhi permintaan permaisurinya, yakni Siti Kamaliah atau Putroe Phang (Putri Pahang) anak dari Sultan Pahang (Malaysia) yang kerajaannya ditaklukan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1613."
Dalam karya Raden Hoesein Djajadiningrat disebutkan, menurut cerita, seorang raja di kerajaan Aceh telah memerintahkan kepada bawahannya (Utoih-utoih=tukang-tukang) untuk membuat sebuah Gunung Buatan yang dikelilingi sebuah taman. Hal itu dimaksudkan untuk menyenangi permaisurinya (Putroe Phang dari Pahang) yang selalu merindukan kampung halamannya yang sarat dengan gunung-gunung. Adapun raja yang memerintahkan pembangunan gunongan tersebut ialah Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).
Berbeda dengan R. Hoesein Djajadininggrat, dalam Bustanussalatin yang dikarang oleh Nuruddin ar-Raniri, pada bab XIII buku kedua, disebutkan bahwa yang mendirikan Gunongan adalah Sultan Iskandar Tsani yang memerintah Kerajaan Aceh 1636-1641 (mungkin yang dimaksudkan dilanjutkan pembangunannya oleh Iskandar Tsani). Ar-Raniry menceritakan mengenai pembangunan sebuah taman yang dibangun oleh sultan tersebut yang dinamakan Taman Gairah beserta dengan sejumlah bangunan di dalamnya, di antaranya adalah Gunongan. Meskipun demikian, ada pula yang menyebutkant bahwa Gunongan adalah simbol dari gunung kosmis atau replika Gunung Meru, baik yang berasal dari masa Islam maupun pra-Islam.
Secara garis besar, dalam kompleks Taman Gunongan dapat disebutkan atas beberapa bangunan, yaitu:
a. Gunongan, berdiri dengan tinggi 9,5 meter, menggambarkan sebuah bunga yang dibangun dalam tiga tingkat. Tingkat pertama terletak di atas tanah dan tingkat tertinggi bermahkota sebuah tiang berdiri di pusat bangunan. Keseluruhan bentuk Gunongan adalah oktagonal (bersegi delapan). Serambi selatan merupakan lorong masuk yang pendek, tertutup pintu gerbang yang penyangganya sampai ke dalam gunong.
b. Peterana Batu Berukir, berupa kursi bulat berbentuk kelopak bunga yang sedang mekar dengan lubang cekung di bagian tengah. Kursi batu ini berdiameter 1 m dengan arah hadap ke utara dengan tinggi 50 cm. Sekeliling peterana batu berukir berhiaskan arabesque berbentuk motif jaring atau jala. Peterana batu berukir berfungsi sebagai tahta tempat penobatan sultan. Belum diketahui dengan pasti nama-nama sultan yang pernah dinobatkan di atas peterana batu berukir tersebut. Bustanussalatin menyebutkan ada dua buah batu peterana, yaitu peterana batu berukir (kembang lela masyhadi) dan peterana batu warna nilam (kembang seroja). Namun, yang masih dapat disaksikan hingga kini adalah peterana batu berukir kembang lela masyhadi yang terletak bersebelahan dengan Gunongan.
c. Kandang Baginda, merupakan sebuah lokasi pemakaman keluarga sultan Kerajaan Aceh, di antaranya makam Sultan Iskandar Tsani (1636-1641) sebagai menantu Sultan Iskandar Muda (1607-1636) atau istri . Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah (1641-1675 M). Bangunan kandang berupa teras dengan tinggi 2 m dikelilingi oleh tembok dengan ketebalan 45 cm dan lebar 18 m. Bangunan ini dibuat dari bahan bata berspesi kapur serta berdenah persegi empat dengan pintu masuk di sisi selatan. Areal pemakaman terletak di tengah lahan yang ditinggikan. Lahan yang ditinggikan pernah dilindungi oleh satu bangunan pelindung. Pagar keliling Kandang mempunyai profil berbentuk tempat sirih dengan tinggi 4 m. Pagar ini diperindah dengan beragam ukiran berbentuk nakas, selimpat (segi empat), temboga (seperti hiasan tembaga). Mega arak-arakan (awan mendung), dan dewamala (hiasan serumpun bunga dengan kelopak yang runcing dan bintang yang merupakan hiasan pada kolom tembok keliling berupa arabesque berbentuk suluran mengikuti bentuk segi empat). Mega arak-arakan, yaitu hiasan arabesque berupa awan mendung yang dibentuk dari suluran sebagai hiasan sudut pada bingkai dinding. Dewamala merupakan hiasan yang berbentuk menara-menara kecil berjumlah dua belas buah di atas tembok keliling terutama bagian sudut, berbentuk bunga dengan kelopak daunnya yang runcing menguncup. Bangunan ini dibuat oleh orang Turki atas perintah sultan Aceh.
d. Medan Khairani, merupakan sebuah padang luas di sisi barat Taman Gairah yang dihiasi dengan pasir dan kerikil yang dikenal dengan nama kersik batu pelinggam. Sebagian besar lahannya kini digunakan sebagai Kerkoff (kompleks makam Belanda yang disebut Peutjut). Kompleks makam ini digunakan untuk menguburkan prajurit Belanda yang tewas dalam Perang Aceh (1873-1942 M).
e. Balai, merupakan bangunan yang banyak dibangun di dalam Taman Gairah. Dalam Bustanussalatin diuraikan mengenai lima unit balai dengan halaman pada tiap-tiap balai beserta teknik pembangunan dan kelengkapan ragam hiasnya. Balai merupakan bangunan panggung terbuka yang dibangun dari kayu dengan fungsi yang berbeda-beda. Balai-balai tersebut, antara lain: Balai Kambang tempat peristirahatan, Balai Gading tempat melaksanakan kenduri. Balai Rekaan Cina tempat peristirahatan yang dibangun oleh ahli bangunan dari Cina. Balai Keemasan tempat peristirahatan yang dilengkapi dengan pagar keliling dari pasir, dan Balai Kembang Caya. Namun, dari balai-balai yang disebutkan tersebut tidak satu pun yang tersisa.
f. Pinto Khop (Pintu Biram Indrabangsa), dapat diartikan sebagai pintu mutiara keindraan atau kedewaan atau raja-raja. Dalam Bustanussalatin disebut dengan Dewala.
Gerbang ini dikenal pula dengan sebutan Pinto Khop, merupakan pintu penghubung antara istana dengan Taman Ghairah. Pintu ini berukuran panjang 2 m, lebar 2 m, dan tinggi 3 m. Pinto Khop terletak pada sebuah lembah sungai Dar al-Ishq. Dugaan sementara, tempat ini merupakan tebing yang disebutkan dalam Bustanussalatin dan bersebelahan dengan sungai tersebut. Dengan adanya perombakan tata kota Banda Aceh dewasa ini, kini pintu tersebut tidak lagi berada dalam satu kompleks dengan Taman Sari Gunongan. Bangunan Pintu Khop dibuat dari bahan kapur dengan rongga sebagai pintu dan langit-langit berbentuk busur untuk dapat dilalui dari arah timur dan barat. Bagian atas pintu masuk berhiaskan dua tangkai daun yang disilang sehingga menimbulkan fantasi (efek) figur wajah dengan mata dan hidung serta rongga pintu sebagai mulut. Atap bangunan yang bertingkat tiga dihiasi dengan berbagai hiasan dalam bingkai-bingkai, antara lain biram berkelopak (mutiara di dalam kelopak bunga seperti yang juga ditemukan pada bangunan Gunongan). Sementara pada bagian puncaknya dihiasi dengan sangga pelinggam (mahkota berupa topi dengan bagian puncak mėruncing). Bagian atap merupakan pelana dengan modifikasi di empat sisi dan berlapis tiga. Pada sisi utara dan selatan dewala ini berkesinambungan dengan tembok tebal (tebal 50 m dan tinggi 130 m) yang diduga merupakan pembatas antara lingkungan Dalam (istana) dengan taman, tetapi tembok tersebut tidak ditemukan lagi.
Kompleks pemakaman prajurit Belanda peninggalan kolonial yang merekam sejarah peperangan Aceh, menjadi sumber penting kajian sejarah dan arkeologi kolonial.
Gerbang istana Kesultanan Aceh bergaya arsitektur Islam-Melayu, berfungsi sebagai jalur penghubung Sultan menuju Taman Sari Gunongan dalam aktivitas kerajaan.
Bangunan memorial arsitektur modern berfungsi edukatif, dirancang untuk mengenang tragedi tsunami 2004 dan meningkatkan kesadaran mitigasi bencana masyarakat.
Ruang terbuka bersejarah di pusat Banda Aceh yang sejak masa kolonial berfungsi sebagai lokasi upacara, olahraga, dan kegiatan kebudayaan masyarakat.
Lembaga pelestari warisan budaya Aceh yang menampilkan koleksi etnografi, arkeologi, dan sejarah, mencerminkan identitas serta peradaban masyarakat Aceh.